| |
Home |
 |
Sabtu, 26 Maret 2011
Saatnya Industri Sawit Merambah Hilir
Pekanbaru-MOO Bulan ini, persis satu abad kelapa sawit (Elaeis guineensis)
bercokol di Nusantara. Namun apa yang dicapai negeri ini untuk memaksimalkan
pengelolaan kelapa sawit, masih mengecewakan. Komoditi kelapa sawit
mayoritas masih pada industri hulu. Kalaupun ada capaian. Yang tertinggi
hanya sampai pada pola kemitraan. Tak lebih. Industri hilir masih mimpi.
"Dulu kebun kelapa sawit dikuasai Belanda. Sekarang berpindah ke tangan
konglomerat. Namun Indonesia belum bisa mentransformasi struktur perkebunan
kelapa sawit. Yang ada justru kebijakan soal masa depan petani kelapa sawit
yang kian mundur. Kalaupun ada yang sejahtera, itu hanya segelintir. Paling
yang punya kebun sawit di atas 10 hektar lah," kata Mansuetus Darto,
Koordinator Forum Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS)
dalam diskusi terbatas di kawasan jl. KH. Ahmad Dahlan Pekanbaru, Riau Sabtu
(26/3).
Kebijakan revitalisasi perkebunan yang menerapkan pola satu atap kata Darto,
telah mengkebiri hak-hak petani kelapa sawit. Petani dilarang mengelola
kebun layaknya Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Rakyat hanya diberi kelonggaran
hingga 20 persen. Selebihnya jatuh ke tangan perusahaan.
Mestinya kata Darto, lantaran perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah
mapan, mestinya pemerintah sudah mulai mendesain masa depan petani kelapa
sawit agar bisa mandiri. Caranya, petani diarahkan menggarap sektor hulu,
sementara perusahaan diarahkan di sektor hilir.
Jika ini dilakukan, maka angka ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang rata-rata 18
juta ton per tahun itu dapat ditekan. "Yang tadinya dikelola di dalam negeri
menjadi minyak goreng dan unsur lainnya cuma 4 juta ton, tentu akan
meningkat," terang Darto.
Pada mulanya, biji kelapa sawit diboyong oleh Belanda ke Indonesia tahun
1848. Beberapa biji kelapa sawit itu ditanam di Kebun Raya Bogor. Biji-biji
lainnya di tanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias.
Di Sumatera, biji kelapa sawit pertama kali datang ke Deli Sumatera Utara.
Persis tahun 1870. Tanaman di Bogor dan Deli inilah yang menjadi cikal bakal
bibit kelapa sawit di Indonesia. Biji ini dinamakan Deli Dura.
Tahun 1911, kelapa sawit mulai menjadi budidaya komersial di kalangan
pengusaha belanda. Di Sumatera, mulailah muncul perkebunan kelapa sawit. Di
deli dan Aceh. Luas area perkebunan mencapai 5.123 hektar. Nah, ini pulalah
yang menjadi cikal munculnya nama bibit Marihat. Sebab untuk melestarikan
benih kelapa sawit, dibangunlah pusat pemuliaan dan penangkaran bibit kelapa
sawit di Marihat Sumatera Utara. [aa]
|
|